September 14, 2012

Smell of Rain

Katanya hujan datang kembali. Menyiramkan sejuk airnya terhadap tanah sehingga menimbulkan petrichor yang menyeruak. Kenangan lama mungkin tersirat kembali, mengingat telah lama tak bertemu. Hujan itulah seperti kau. Muncul dengan ketenangan setelah lama merasakan hawa panas kemarau. Tapi mengapa kau hanya datang sebentar, dan hanya membawa baumu. Aku tak melihat sosokmu namun ku merasakan bekas hadirmu di sekitarku.
Di waktu kali ini aku tak dapat menangkap hadirmu karena ku tahu aku masih terlalu lemah untuk menjadi penyandangmu. Bukan berarti ku menyerah melainkan tetap berdoa untuk segera yang baik di mata-Nya.

September 9, 2012

Menatapmu

Senja kian merapat. Matahari tak berada di puncaknya lagi. Awan keemasan mulai mewarnai sore yang berhawa sejuk. Irish, gadis berambut panjang yang kepalanya masih terbalut oleh perban putih, mencoba untuk bangkit berjalan kembali, menikmati sore yang entah masih bisa ia bilang indah atau tidak.
Ingatannya tak pulih seperti semula. Benturan keras dalam kecelakaan lalu telah merenggut segala memori yang terfolder rapi di kepalanya. Tak satupun dapat ia ingat, tak terkecuali Ben. Lelaki yang ia cintai hampir tiga tahun ini. Lelaki yang tak akan pernah direstui oleh keluarganya untuk menjadi belahan jiwanya.
Tangan langsing Irish meraba bangku kayu taman yang mulai lapuk dimakan cuaca. Pikirannya kosong. Tatapan matanya hampa. Entah apa yang ia coba untuk pikirkan karena memorinya benar-benar kosong. Senja pun ia tatap dengan penuh tanda tanya.
Apa senja seindah ini pernah aku lihat sebelumnya? Jika pernah, dengan siapa aku melihatnya?
Tanpa ia ketahui, dari jarak yang sangat dekat, sepasang mata sedang mengarah padanya. Namun sepasang mata itu penuh dengan kegelapan. Sepasang mata yang sering menatapnya dengan cinta tapi kini hanya menatapnya kosong. Ben hanya dapat mengarahkan matanya ke arah Irish tanpa menatapnya. Kornea matanya tak dapat menangkap cahaya lagi. Entah berapa kali lagi Ben harus menatap Irish dengan kebutaannya.

Rasa

Aku terlalu takut untuk berbicara tentang rasa. Usia yang tak terlalu matang dan tak terlalu dini menjadi sebuah pintu kegamangan yang menjadi penghalang. Dulu, hanya mengagumi tanpa kemajuan dan malah jalanku memutar untuk berkenalan dengan yang lain. Sekarang ku pahami apa yang kubutuhkan dan bukan apa yang kuinginkan meskipun keinginanku sekarang belum tentu apa yang kubutuhkan sekarang.
Kau. Yang jauh di sana. Apakah kau akan pulang padaku?
Kau. Yang tak tahu dimana. Apakah kau akan melirikku sebagai sesuatu yang beda?
Kau. Yang hanya kuperhatikan dari dunia angan. Apakah aku hanya sebatas teman di dunia tak nyata?
Aku tak menyalahkan waktu yang telah memisahkan kita hingga sejauh ini
Malah karena waktulah kita dapat belajar mengenai rasa dan juga hati