December 13, 2012

Tak Lagi Sama

Di sebuah malam pekat tanpa cahaya bulan maupun bintang, sepasang pemuda-pemudi menghentikan mobil sedan di bukit timur. Gemerlap lampu yang berasal dari kota di bawah bukit menghiasi bak kunang-kunang di ladang ilalang. Pemuda-pemudi itu saling terdiam dan berpikir masing-masing.
Entah untuk mengusir keheningan, sang pemudi itu turun dari mobil. Semilir angin malam langsung menerpanya, meniup kencang rambut panjangnya. Ia pun makin merapatkan jaket hitam yang dikenakannya. Tak lama kemudian, sang pemuda pun ikut turun dari mobil dan berjalan menghampiri sang pemudi yang berdiri menghadap ke pemandangan malam hari kota bawah bukit timur.
"Tempat pertama kita." ujar Rifky, nama sang pemuda.
"Ya!" balas sang pemudi yang bernama Christine. "Masih seperti empat tahun lalu." pikiran Christine pun mencoba terbang ke memori empat tahun silam namun buru-buru hatinya menutup pintu memori tersebut. Tak dapat dicegah lagi, mendadak sebutir demi sebutir cairan bening mengalir deras di pipi Christine. Sudah tak ada alasan lain lagi baginya untuk terus menampung air mata di danau matanya. Hatinya lega namun terluka akan arti air mata ini.
"Kenapa menangis?" tanya Rifky pelan seraya mencoba menghapus air mata yang membasahi pipi Christine.
Christine masih terisak pelan. "Semoga keputusan ini nggak salah." jawab Christine dalam isakannya.
Rifky menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Nggak ada yang salah. Semua benar. Memang ini adanya."
Christine menatap dalam Rifky. Hatinya tahu benar jika pemuda yang berdiri di depannya itu sangat ia cintai, terlalu dicintai malah. Namun saling mencintai bukan berarti tidak ada perbedaan yang melintang. Bukan berarti semuanya lancar seperti rencana.
"Cinta mungkin masih sama tapi tujuan mungkin sudah tak lagi sama." ujar Christine mencoba menenangkan diri. Ia sudah tak menangis lagi. "Sekompak apapun hubungan yang terbangun tapi tanpa tujuan akhir yang sama, itu percuma belaka."
Rifky mengangguk mengerti. "Maaf." ucapnya, lalu menyambut kedua tangan Christine.
"Nggak ada yang salah di sini. Anggap ini proses pendewasaan diri." ralat Christine.
Mereka pun saling memberi pelukan. Sebuah pelukan erat, yang mereka tahu jika pelukan ini bukan sebagai obat maupun penarikan keputusan kembali, melainkan sebagai kenangan sebelum mereka saling melepas untuk selamanya.

December 10, 2012

Kemungkinan

Mereka bertemu di depan danau biru siang hari ini. Suasana yang sejuk serta matahari yang tak membagi sinarnya secara mengerang, membuat pertemuan di antara Ariana dan Yoga semakin berkesan. Sedari jauh, Yoga dapat menangkap sosok Ariana yang hari ini tampil luar biasa menarik, seperti biasanya, dengan balutan mantel kuning lemon, dipadu rok mini hitam, serta heels yang berwarna serupa dengan mantel yang dikenakan gadis tersebut.
"Hai, maaf udah nunggu lama!" ujar Yoga ketika sudah berada di hadapan Ariana. Gadis itu hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku juga baru datang." Ariana membalas. "Nah, sekarang ada perlu apa nih kita ke sini?" tembak Ariana langsung. Nafas Yoga tercekat begitu mendapat pertanyaan seperti demikian dari Ariana. Matanya berputar mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Hingga pada akhirnya, Yoga menarik tangan Ariana untuk mengikutinya. "Nggak usah jauh-jauh juga, Ga." cetus Ariana tiba-tiba sehingga langkah mereka terhenti di depan bangku cokelat di bawah pohon cemara. "Aku tahu kamu mau bicara tentang apa." nafas Yoga tertahan sebentar. Butuh waktu sekiranya lima detik sebelum ia membalikan badannya, lalu memeluk Ariana seerat mungkin.
"Mungkin aku satu-satunya pria paling pecundang yang pernah ada, Na. Aku juga heran kenapa aku bisa terlahir seperti ini." dalam pelukannya, Yoga tak henti-hentinya memaki diri sendiri. Tangan Ariana yang penuh kelembutan pun menepuk-nepuk pelan punggung Yoga.
"Ini bukan salah siapa-siapa, Ga. Kamu bukan pecundang kok." Ariana membesarkan hati Yoga.
"Tapi kenapa aku susah sekali untuk bilang 'nggak' sih?" Ariana pun menyudahi pelukan mereka. Mata mereka saling bertatapan. Ada yang aneh dari pandangan Ariana. Ada pandangan tidak rela di sana namun senyumnya berusaha menutupi itu semua.
"Sudah waktunya kamu bahagia, Ga. Kalau sama aku terus, kamu nggak mungkin bahagia. Percaya deh, Vira lebih mampu buat kamu bahagia." Ariana berkata dengan tersenyum manis. Gadis itu tahu benar jika hatinya benar-benar terkoyak dengan perkataannya itu namun senyumannya mampu membuat hatinya tulus.
"Kenapa aku mesti dijodohkan dengan Vira? Kenapa nggak sama kamu aja?"
"Vira adalah kakakku satu-satunya. Ia lebih membutuhkan kamu dan pria baik seperti kamu pantas mendapatkan wanita baik seperti Vira."
"Dan kamu?"
Ariana terdiam. "Buat Vira bahagia! Itu sama saja dengan buat aku bahagia." ia tak menjawab dengan jelas pertanyaan Yoga. Sebelum ia berubah pikiran, Ariana membalikan badannya dan meninggalkan Yoga. Gadis itu tahu bakal membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merelakan Yoga dan ia tahu juga bakal membutuhkan waktu yang tidak sebentar bagi Yoga untuk melupakan dirinya. Walau segala kemungkinan mungkin masih bisa saja terjadi.

Inspired by: Ecoutez - Percayalah

December 9, 2012

Kau Pilih Caramu

Kau datang dengan sapuan tatapan tak biasa. Mengerling penuh pesona sempat membuatku terserentak sejenak. Aku tahu kalau ini semu. Aku tahu kalau ini sangat beresiko. Namun aku tetap mendekati pusaran tajam itu. Entah penasaran atau sekadar permainan. Tapi rasa ingin memiliki sudah pasti ada.
Kau merespon balik. Sungguh di luar dugaan. Kita pun memulai drama ini tanpa skenario dan berjalan natural. Hingga waktu benar-benar berdetak mengingatkanku jikalau ini semua ada tenggang waktunya. Keindahan mungkin ada batas wajarnya karena mimpi juga tak selamanya sesuai dengan harapan, apalagi kenyataan.
Dengan mudah kau menjanjikan keindahan untuk yang lain, seperti keindahan yang kau janjikan padaku. Sudah tahu aku tak akan terkejut melihatnya walau memang ada perasaan kecewa di lubuk hati. Tapi inilah kau dengan caramu. Cara tidak biasa yang kau pilih untuk bermain dengan cinta.

inspired by: Babendjo - Kau Pilih Caramu