September 7, 2011

I am not a stupid girl (part 3)


Baru empat jam bertemu dengan Surya, niat Alanis ikut les privat langsung berubah. Awalnya ia ingin lulus UAN tapi sekarang ia ingin menunjukan kepada Bisma dan yang lainnya bahwa Alanis tak sebodoh yang mereka kira. Memang niat yang tidak baik namun hati Alanis yang ingin balas dendam tak dapat dibendung. Tapi cara balas dendam Alanis yang satu ini sudah dimasak dengan intelektual sang Alanis.
          “Eh, kita duduk di situ aja yuk!” ajak Flora kepada Alanis dan Vera ketika mereka sampai di kelas bimbel. Tempat duduk yang disarankan Flora terletak di pojok belakang kelas. Tempat itu memang cocok untuk siswa yang malas ikut bimbel karena mereka dapat main ponsel, mengobrol, ataupun tidur di kelas.
          “Boleh!” Vera mengiyakan saran Flora. Dengan langkah agak malas, Alanis mengikuti kedua temannya itu. “Al, duduk sini!” ajak Vera sambil menunjuk kursi di sebelah kursi yang ia duduki. Sebenarnya Alanis agak malas duduk dekat mereka. Mata Alanis berpencar ke sekitar ruangan, mencari tempat duduk yang lebih layak. Lalu matanya langsung tertuju pada bangku kosong di sebelah Silla. Kebetulan ia dan Silla satu kelas di les bimbel.
          “Gue duduk di situ aja!” tolak Alanis. “Kalau dipojok takut ngantuk.” tanpa menunggu temannya mencegah, Alanis segera duduk di sebelah Silla. “Hai!” sapa Alanis kepada Silla yang sedang membaca buku. Kepala Silla mendongak menatap Alanis. “Gue boleh duduk di sebelah lo nggak?” pinta Alanis sambil matanya melirik ke arah bangku kosong di sebelah Silla.
          Silla diam sejenak lalu menanggukan kepalanya pelan. Dengan senang hati, Alanis duduk di sebelah Silla. Sepanjang les bimbel berlangsung, Alanis tidak henti-hentinya melirik ke arah Silla, lalu beralih ke buku catatan Silla, mencoba mengetahui apa yang Silla tulis. Sebenarnya Silla menyadari akan perbuatan Alanis, namun ia hanya diam saja, seolah tak terjadi apa-apa.
          “Silla!” panggil Alanis seusai les bimbel. Silla menoleh ke arah Alanis yang berada sekitar satu meter di belakangnya. “Gue mau nanya sesuatu.” Alanis berjalan menghampiri Silla.
          “Apa?” tanya Silla. Satu alisnya terangkat.
          “Soal matematika tadi ada yang nggak gue ngerti. Kalau lo nggak keberatan, lo bisa ajarin gue nggak?” pinta Alanis sambil menggigit bibir bawahnya.
          Silla menyipitkan matanya. “Kenapa lo nggak nanya guru yang tadi aja?”
          “Gue nggak ngerti cara yang dia ajarin. Mungkin dengan cara lo, gue bisa lebih mengerti.” Alanis menjelaskan. “Besok bisa kita bahas di kelas?” pintanya lagi. Hampir lima detik Silla bimbang dan pada akhirnya ia mengangguk setuju. “Makasih, Silla.”
          Keesokan harinya, ketika jam istirahat sekolah, Alanis pun belajar bersama Silla di kelas. Supaya tak terlalu merepotkan Silla, Alanis sengaja membawa dua kotak bekal nasi goreng ke sekolah, yang satu untuk dirinya dan yang satu lagi untuk Silla. “Jadi lo nggak usah khawatir nggak akan makan siang karena gue udah nyiapin segala yang lo butuhin.” ujar Alanis sehingga membuat Silla terperangah. “Nah, ini soal yang kemarin gue tanyain!” Alanis menyerahkan buku yang tercantum soal matematika yang tak bisa ia jawab.
          Peristiwa Alanis belajar bersama Silla cukup mengundang perhatian seisi kelas karena selama ini Alanis sangat tidak akrab dengan Silla. Hal ini pun mencuri perhatian Vera, Flora, dan Bisma. Mereka bertiga tahu benar jika Alanis sangat tidak menyukai Silla, begitupun sebaliknya.
          “Gue sendiri nggak tau kenapa Alanis bisa jadi kayak gini, Ma.” ucap Flora kepada Bisma ketika mereka makan siang di kantin.
          “Gue akan temuin dia sekarang.” Bisma bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke kelas Alanis. Di dalam kelas, ia menemukan Alanis sedang duduk di sebelah Silla sambil menulis. “Hai, Sayang!” sapa Bisma yang langsung menghampiri Alanis.
          Alanis dan Silla kompak mendongakan kepala. “Oh, hai!” Alanis membalas sapaan Bisma dengan ramah, seolah tak pernah terjadi peristiwa hatinya hancur berkeping-keping karena perselingkuhan Bisma dengan Vera.
          “Kamu kok nggak makan sih? Emang nanti nggak lapar?” tanya Bisma, lalu duduk di depan Alanis.
          “Aku bawa makan kok.” jawab Alanis sembari menunjuk kotak makan berwarna oranye yang terletak di depan Alanis. Mata Bisma tertuju pada kotak makan oranye tersebut, lalu beralih ke Alanis lagi.
          “Oh gitu ya?” Bisma sudah tak bisa berkutik lagi.
          “Oh ya, kalau kamu udah nggak ada keperluan, aku mau lanjutin belajar lagi sama Silla.” secara tak langsung atau secara halusnya, Alanis mencoba mengusir Bisma dari situ.
          “Yaudah deh!” Bisma menyadari pengusiran halus Alanis. Ia bangkit dari duduknya. “Selamat belajar ya!”
          “Iya!” Alanis terus memamerkan senyuman palsunya kepada Bisma.
          Setelah Bisma pergi, Silla memberanikan diri bicara kepada Alanis. “Tumben pacar sendiri dibiarkan pergi begitu aja. Biasanya dipelukin terus.” sindir Silla.
          “Karena gue udah bosan.” Alanis berkata dengan singkat, lalu menatap Silla. Tiba-tiba senyumannya mendadak luntur. “Loh, kok bibir lo pucat, Sil?” Silla langsung salah tingkah. “Lo lapar ya? Yaudah kita makan dulu deh!”
          “Gu…gue nggak apa-apa. Lanjutin aja belajarnya!” tolak Silla.
          “Tapi kalau lo sakit magh gimana? Nanti salah gue deh!” sifat berlebihan Alanis pun akhirnya keluar.
          Silla mengerling tajam ke arah Alanis. “Lanjutin belajarnya!” Alanis tak bisa berkata apa-apa lagi karena Silla telah menunjukan kerlingan tajamnya.
          Tanpa angin dan hujan, Silla tak masuk sekolah keesokan harinya. Keringat dingin mendadak menyelimuti diri Alanis. Hatinya gundah dan menerka apakah Silla tak masuk sekolah gara-gara sakit karena kemarin ia telat makan siang akibat harus mengajari dirinya matematika. Detik itu juga, ia berniat menjenguk Silla sepulang sekolah.
          Dengan berbekal alamat Silla dari ketua kelasnya, Alanis pun benar-benar membulatkan tekadnya untuk menjenguk Silla. Hal ini pun diketahui oleh Vera, Flora, dan Bisma. Sebelum Alanis pergi ke rumah Silla, Bisma terlebih dahulu mencegahnya.
          “Ngapain sih kamu jenguk dia segala? Apa kamu lupa perkataan kasar dia dulu ke kamu?” Bisma mencoba menghalangi Alanis dengan cara membangkitkan memori kelam antara Silla dan Alanis.
          Alanis terdiam mendengar perkataan Bisma. Di benaknya masih teringat jelas perkataan tak mengenakan yang terlontar dari mulut Silla langsung untuk dirinya. Ketika awal kelas tiga dimana Silla dan Alanis tergabung dalam satu kelompok tugas Fisika, kejadian itu pun terekam. Alanis yang kala itu lebih mementingkan update fashion dan gosip selebritis di majalah, menyepelekan dan masa bodoh akan tugas kelompok Fisika sehingga membuat Silla geram, lalu dengan lantang Silla mengatai Alanis sebagai ‘Gadis Oplas’ alias ‘Gadis Opreasi Plastik’ langsung di depan wajah Alanis. Walaupun kejadian itu tidak di depan umum—hanya Alanis dan Silla yang berada di TKP—tapi Alanis langsung mengadu kepada Bisma, Vera, dan Flora akan perkataan Silla sehingga membuat seluruh orang tahu jika secara tak langsung Silla telah menyinggung perasaan Alanis.
          “Tapi itu kan dulu. Sekarang semua udah baik-baik aja kok.” Alanis mencoba membela Silla di depan Bisma.
          “Tapi, Say…” potong Bisma.
          “Eh, aku harus buru-buru ke rumah Silla nih! Bye!” Alanis berlalu begitu saja, meninggalkan Bisma sendirian yang masih terperangah.
          Setelah menerjang jalanan ibu kota yang macet, ditambah ia harus mencari alamat Silla di daerah yang ia tidak ketahui, akhirnya ia sampai di depan rumah sederhana bercat putih dan berpagar cokelat. Halaman depannya tak begitu luas, namun terdapat pohon mangga di sudut halaman. Pintu pagarnya terbuka sedikit sehingga membuat Alanis berani masuk hingga ke teras rumah tersebut.
          “Permisi!” Alanis berucap sembari mengetuk pelan pintu rumah tersebut. Ditunggu selama sepuluh detik, tak ada sahutan dari dalam. “Permisi!” kali ini suara Alanis agak ditinggikan.
          “Iya, tunggu sebentar!” akhirnya ada sapaan juga dari dalam. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan muncul sesosok wanita yang kira-kira berusia sekitar 40 tahunan memakai baju abu-abu dan rok span hingga mata kaki. Rambutnya ditutupi oleh kerudung warna putih.
          “Permisi, Bu!”
          “Iya, ada apa ya?” tanya wanita tersebut dengan logat seperti orang Jawa.
          “Apa benar ini rumahnya Silla Paramitha?”
          “Iya, benar! Adek siapa ya?”
          “Perkenalkan,” Alanis mengulurkan tangan kanannya. “nama saya Alanis. Saya teman sekelasnya Silla.” wanita itu pun membalas uluran tangan Alanis.
          “Oh, teman sekelasnya Silla? Mari nak Alanis, silakan masuk!” dengan ramah, Alanis dipersilakan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
          “Hari ini Silla nggak masuk sekolah. Saya curiga dia sedang sakit hari ini, jadi saya mau jenguk dia.” Alanis mengatakan maksudnya datang ke rumah Silla.
          “Iya benar, Silla mengalami demam dari kemarin malam, jadinya hari ini dia ndak bisa masuk sekolah.” wanita yang lambat laun diketahui sebagai ibunya Silla pun membenarkan dugaan Alanis.
          “Oh, gitu? Terus, keadaan dia sekarang gimana?” tanya Alanis.
          “Tadi pagi baru saja dari puskesmas, mungkin obatnya belum bereaksi.” Ibu Silla menjawab. Keheningan pun tercipta karena Alanis tak mempunyai topik lain. Lalu pandangannya tertuju pada kantung plastik hitam yang sedari tadi ia bawa untuk dijadikan bahan jengukan untuk Silla.
          “Oh ya, Bu, ini ada buah dari saya untuk Silla dan keluarga! Semoga aja dengan buah ini daya tahan tubuh Silla bisa cepat meningkat!” Alanis menyerahkan kantung plastik hitam yang berisi jeruk itu kepada Ibu Silla.
          “Wah, merepotkan nak Alanis saja!” Ibu Silla terlihat agak sungkan.
          “Nggak apa-apa kok!”
          “Makasih ya nak Alanis!” Alanis pun tersenyum tulus. “Kalau gitu, Ibu beritahu Silla dulu ya!”
          “Kalau Silla lagi tidur, mendingan nggak usah dibangunin, Bu.”
          “Iya!” Ibu Silla pun meninggalkan Alanis di ruang tamu sendirian. Baru beberapa saat Alanis sendirian di ruang tamu, mendadak hujan turun.
          Alanis mengengok lewat jendela. “Yaa, kok hujan sih?” seketika itu pula, terdengar suara motor memasuki halaman rumah Silla. Lalu terdengar langkah kaki berjalan memasuki rumah Silla dan muncullah seorang pemuda tinggi yang tak asing lagi bagi Alanis. Ternyata pemuda itu adalah Surya. Mereka berdua saling terkejut.
          “Elo?!” pekik mereka berdua bersamaan. Seragam sekolah Surya pun agak basah karena terkena hujan. Kemeja putihnya pun menjadi transparan sehingga membuat otot lengan Surya terlihat jelas. Mendadak hati Alanis terlonjak. Untuk menutupinya, Alanis memalingkah wajahnya dari Surya sehingga pandangannya tertuju pada jam dinding yang tepat lurus di depannya.
         “Ngapain lo di sini?” tanya Alanis mau tahu tanpa menoleh ke arah Surya yang berdiri tak jauh dari sebelahnya.
          “Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo di rumah gue?” mata Alanis terbelalak, lalu wajahnya terpaling kepada Surya lagi.
          “Rumah lo?” Alanis semakin tak mengerti. Belum sempat Alanis melanjutkan perkataan-nya, ibunya Silla pun muncul kembali sambil membawa cangkir.
          “Loh, kamu udah pulang?” tanya Ibu Silla kepada Surya.
          “Iya nih, Bu!”
          “Silakan diminum tehnya, nak Alanis!” Alanis pun menangguk pelan. Setelah meletakkan cangkir yang berisikan teh di meja, Surya pun mencium tangan Ibu Silla.
          “Aku ganti baju dulu ya, Bu. Keujanan tadi.” Surya pun meninggalkan Alanis dan Ibu Silla tanpa menoleh ke arah Alanis lagi.
          Setelah Ibu Silla duduk kembali, Alanis pun memberanikan diri bertanya. “Yang tadi itu siapa ya, Bu?” tanya Alanis hati-hati.
          “Oh, itu Surya, saudara kembarnya Silla.”
          “Saudara kembar Silla?” pekik Alanis terkejut.
          “Memangnya nak Alanis ndak tahu kalau Silla punya saudara kembar?”
          Alanis menggeleng. “Aku baru kenal Silla pas kelas tiga, jadi belum tahu seluk beluk keluarga Silla lebih dalam.” Alanis beralasan.
          “Oh!” tukas Ibu Silla. “Oh ya, nak Alanis, Silla nya sedang tidur. Mungkin gara-gara efek obat. Apa mau Ibu bangunkan saja?” tawarnya.
          “Nggak usah, Bu! Kasihan Silla, mendingan dia istirahat. Aku boleh numpang nunggu sampai hujan reda di sini?” pinta Alanis.
          “Boleh saja, nak!” ketika itu pula, telepon rumah Silla berdering. Karena telepon tak diletakkan di ruang tamu, melainkan di ruang keluarga, Ibu Silla pun harus meninggalkan Alanis sendirian lagi di ruang tamu. Tapi kali ini Alanis tak sendirian karena Surya tiba-tiba muncul dan duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Ibu Silla.
          Kali ini Surya tidak memakai seragam lagi, melainkan memakai kaos hitam dan celana panjang hitam. “Jadi lo ini teman sekolah Silla?” tanyanya dengan lagak seperti polisi yang sedang menginterograsi pencuri.
          “Emang lo nggak sadar kalau gue itu satu sekolah sama saudara kembar lo?”
          “Sadar sih tapi gue nggak nyangka kalian sedekat ini.” ujar Surya sambil melipat kedua tangannya di dada.
          “Nggak dekat juga. Kita cuma satu kelas.” koreksi Alanis.
          “Oh!”
          “Lalu, apa nyokap lo dan Silla tahu kalau selama ini lo itu guru privat gue?” Surya mengerling begitu Alanis bertanya seperti itu.
          “Ngapain gue cerita-cerita?” celetuk Surya ketus. Gaya Surya dan Silla memang mirip; ketus, dingin, dan pintar. Jadi tak salah lagi jika mereka berdua adalah saudara kembar.
          Langit mulai gelap. Bukan karena mendung saja melainkan matahari telah selesai bertugas hari ini sehingga harus kembali ke ufuk barat. Hujan pun sudah mulai reda dan inilah waktu yang tepat bagi Alanis untuk pamit pulang. “Kayaknya hujan udah reda, Bu. Saya mau pamit pulang.” Alanis meminta izin pamit kepada Ibu Silla.
          “Aduh, nak Alanis, jalan depan biasanya banyak kubangan air setelah hujan. Lagian, sekarang hari sudah mulai gelap. Gimana kalau nak Alanis diantar sama kakaknya Silla sampai ke jalan raya?” tawar Ibu Silla. Dengan cepat Alanis menggeleng.
          “Nggak usah, Bu. Biar aku pulang sendiri aja.” tolak Alanis gigih.
          “Nggak apa-apa kok.” belum sempat dicegah, Ibu Silla telah memanggil Surya dan Surya pun muncul. “Tolong anterin nak Alanis sampai jalan raya ya! Kamu tahu kan, di depan situ banyak kubangan air, terus sudah maghrib sekarang.” tanpa berpikir panjang, apalagi menolak, Surya pun mengiyakan perintah ibunya.
          Dan pada akhirnya, Alanis pun dibonceng oleh Surya. Karena jalanan di sekitar situ banyak yang berlubang, tak jarang jarak duduk antara Alanis dan Surya tak terelakan dekatnya. Samar-samar ia dapat mencium wangi-wangian dari tubuh Surya jika motor Surya bergoncang karena melindas jalanan yang berlubang. Bayangkan saja bau petrichor dapat dikalahkan oleh wewangian dari tubuh Surya. Akal sehat Alanis mulai hilang. Ia pun menggelengkan kepalanya cepat untuk mengembalikan akal sehatnya.
          Untung saja perjalanan yang nyaris merenggut akal sehat Alanis pun berakhir. Entah harus lega atau kecewa yang dirasa Alanis. “Lo tau jalan pulang?” sindir Surya ketika Alanis telah turun dari motornya.
          “Gue bisa sampai sini dan pastinya gue tau jalan pulang.” balas Alanis ketus.
          “Iya tau deh, cewek yang ber-IQ 138!” Alanis menatap Surya sinis, lalu Surya membalas tatapannya sehingga membuat Alanis kelabakan.
          “Y…yaudah, sana pulang!” usir Alanis.
          “Gue mau memastikan lo naik kendaraan yang benar.” tak lama kemudian, Alanis mem-berhentikan taksi.
          Sebelum ia masuk ke taksi, ia berujar, “Selama ada alat transportasi ini, gue nggak akan nyasar.” sebelum Surya membalas perkataannya, Alanis masuk terlebih dahulu ke taksi. Setelah itu, taksi yang ditumpangi Alanis pun melaju.
          Di situ Surya hanya bisa terperangah. “Benar-benar cewek pintar!” cetusnya.

I am not a stupid girl (part 2)


Patah hati memang hal yang paling tak enak di dunia. Makan tak nafsu, tidur tak nyenyak, belajar tak konsentrasi, serta tertawa tak bisa. Hampir dua hari Alanis terjelembab dalam kubangan patah hati yang telah dibuat oleh pacarnya dan sahabatnya sendiri. Namun selama dua hari itu, Alanis berhasil berakting dan menyembunyikan perasaan terdalamnya di depan Bisma, Vera, maupun teman-temannya yang lain.
          “Eh, ada diskon besar loh di Oracle Butik. Katanya baju-bajunya didatangi dari Jepang. Gimana kalau sepulang sekolah kita ke sana?” usul Flora, salah satu teman dekat Alanis selain Vera.
          “Wah boleh tuh!” Vera menyetujuinya. “Lo ikut kan, Al?” tanya Vera kepada Alanis. Bicara tentang diskon besar, tiba-tiba ingatan Alanis tertuju pada diskon besar dua bulan yang lalu, dimana ia, Vera, dan Flora berbelanja tas, sepatu, serta baju secara gila-gilaan. Karena tak membawa uang cukup, Flora meminjam uang Alanis untuk menutupi pembiayaan belanjanya. Entah karena saking baiknya atau mungkin saking pelupanya, Alanis tak menagih hutang Flora yang hampir mencapai lima ratus ribu rupiah.
          “Tunggu sebentar deh!” Alanis mengalihkan pembicaraan. “Kalau nggak salah dua bulan yang lalu kita pernah shopping bareng kan? Dan kalau nggak salah juga, lo,” mata Alanis menatap Flora tajam. “meminjam uang gue dan sampai sekarang belum lo kembaliin.” wajah Flora berubah menjadi merah padam. Bagaimana Flora tidak malu jika ia ditagih hutang dalam saat seperti ini?
          “A…ah, mmm…masa sih?” ujar Flora terbata-bata. “Se…setahu gue udah dibayar kok.” Flora mengelak. Alanis ingat benar jika Flora belum melunasi hutangnya.
          “Kapan lo ngelunasin? Gue nggak ngerasa nerima uang dari lo.” bantah Alanis. Vera menatap Alanis dan Flora secara bergantian. Ia berusaha untuk menetralkan suasana. Tapi bukannya menetralkan, Vera malah lebih cenderung membela Flora.
          “Mungkin lo lupa kali, Al, kalau Flora udah bayar hutangnya.” tukas Vera. Tatapan tajam Alanis beralih ke Vera.
          “Tahu apa lo tentang hutang Flora ke gue?” sergah Alanis. Vera mendadak terdiam mendengar sergahan Alanis. Tapi emosi Alanis segera diturunkan oleh dirinya sendiri. Ia langsung teringat oleh perkataan Silla tempo hari bahwa diri kita jangan mudah dikalahkan oleh emosi. “Mmm…maksud gue, lo kan nggak tahu hutang Flora ke gue berapa, Ver, jadi lo nggak mungkin tahu apa Flora udah bayar hutangnya atau belum.” Alanis berusaha semaksimal mungkin untuk menurunkan nada suaranya. “Jadi gimana, Flor?” tanya Alanis dengan nada sangat lembut kepada Flora.
          Tak ada jalan lain lagi bagi Flora untuk mengakui hutangnya kepada Alanis tapi pengakuan Flora masih dapat dikatakan sebagai ‘penjagaan image’. “Oh iya, gue lupa, Al! Pas itu gue mau bayar tapi keburu kepakai uangnya. Nanti gue ganti uangnya ya!” cetus Flora.
          “Makasih, Flora!” balas Alanis seraya tersenyum manis.
          Sepulangnya dari sekolah, Alanis tak langsung masuk ke kamarnya. Ia duduk sejenak di sofa ruang televisi. Ditatapnya layar televisi yang dalam keadaan tak menyala sambil senyum-senyum sendiri. Lima menit yang lalu, Alanis menerima SMS dari Flora bahwa Flora telah men-transfer hutangnya ke rekening milik Alanis. Ternyata Flora langsung membayar hutangnya begitu ditagih.
          “Lo pikir gue masih bodoh seperti dulu? Salah besar, teman!” tukas Alanis dalam hati.
          “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Alanis sehingga membuatnya terkejut.
          “Mama! Ngagetin aja deh!” ternyata ibunda Alanis yang berujar.
          “Lagian kamu ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Mama. “Kayak orang nggak waras deh!”
          “Enak aja! Aku masih waras sampai detik ini juga. Aku cuma lagi senang aja.” Alanis memberitahu.
          “Karena Bisma?” senyuman Alanis langsung luntur begitu mendengar nama Bisma.
          “Bukan.” jawab Alanis jutek.
          “Dasar kamu ini! Oh ya, kamu sebentar lagi UAN ya?” begitu ibunya bertanya mengenai UAN, mata Alanis langsung tertuju pada kalendar yang terpampang di salah satu sudut dinding ruang televisi. Sekarang sudah awal Februari sedangkah UAN diprediksi akan dilaksanakan pada awal Mei. Itu berarti Alanis hanya memilik waktu tiga bulan untuk persiapan.
          “Oh iya, Alanis baru sadar!” Alanis menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Itu tandanya Alanis belum mempersiapkan segalanya.
        “Kamu yakin dengan les bimbel seminggu dua kali sudah cukup untuk mempersiapkan UAN sekaligus SPMB?” Alanis terdiam lagi. Jangankan SPMB, persiapan UAN saja belum ada setengahnya.
          “Hmm, nggak yakin sih tapi mau gimana lagi.” tukas Alanis pasrah.
          “Kalau kamu mau, Mama bisa panggilin guru privat ke rumah. Kebetulan teman Mama ada yang jadi guru di SMA 8. Kamu tahu kan SMA itu muridnya pintar-pintar.” Mama menerangkan.
          “Jadi guru privat aku guru SMA 8?” tanya Alanis.
          “Muridnya juga boleh. Kamu mau yang mana?” Alanis mengerutkan dahinya.
          “Haha, nggak perlu juga kali, Mah!” tolak Alanis sambil tertawa.
          Ternyata perkataan ibunya Alanis tidak main-main. Hari Minggu besok, datanglah seorang pemuda tinggi berambut cepak ke rumah Alanis. “Cari siapa ya?” tanya Alanis dari balik pagar rumahnya. Pemuda itu memakai kemeja hitam, jins biru tua, serta membawa tas ransel di pundaknya. Di belakangnya terdapat motor bebek warna hitam dan helm yang diletakan di atas kaca spion motor.
          “Saya mencari Ibu Wulandari.” jawabnya dengan nada datar namun tegas.
          “Mau ada perlu apa?” Alanis masih bertanya dari balik pintu sambil waspada jangan-jangan orang itu ada maksud tak baik.
          “Eh, sudah datang ya?” tiba-tiba Mama muncul dari dalam rumah. Mama langsung membukakan pintu pagar untuk pemuda tersebut. “Kamu Surya kan?” tanya Mama kepada pemuda itu.
          “Iya, nama saya Surya. Anda Ibu Wulandari?” pemuda yang sepertinya bernama Surya itu balik bertanya.
          “Ya, saya Ibu Wulandari. Mari silahkan masuk, Nak Surya!” setelah memarkirkan motornya di depan garasi rumah Alanis, Surya pun digiring Mama masuk ke dalam rumah. “Silakan duduk!” Surya pun duduk di sofa di ruang tamu. “Nah, nak Surya mau mengajarnya dimana? Ruang tamu, ruang televisi, ruang makan, atau taman belakang?” tawar Mama. Alanis yang sama sekali tak mengerti dengan maksud ini semua pun hanya bisa terperangah.
          “Terserah Ibu Wulandari saja.” Surya menjawab singkat sambil tersenyum.
          “Di taman belakang aja ya! Mungkin baik kalau belajar di alam terbuka. Mari ke sana!” tanpa menghiraukan keberadaan Alanis di situ, Mama pun mengajak Surya ke taman belakang. Karena penasaran, Alanis mengikuti mereka dari belakang. Kebetulan di sana terdapat gazebo di dekat kolam renang. “Nggak apa-apa kan duduknya lesehan, nak Surya?”
          Surya mengangguk. “Nggak apa-apa kok!” ujarnya.
          “Nah, Ibu siapin makanan ringan dulu ya! Selamat belajar!” tukas Mama sambil menepuk bahu Alanis yang sedari tadi berdiri di belakang Mama.
          “Belajar?” tanya Alanis tak mengerti. Mama hanya tersenyum menjawab keheranan Alanis lalu pergi meninggalkan Alanis dan Surya di gazebo.
          “Nama saya Surya. Nama kamu?” tanya Surya kepada Alanis setelah Mama masuk ke rumah. Alanis menatap bingung Surya.
          “Nama gue Alanis.” jawab Alanis.
          “Nah, sekarang kita mau belajar apa?” tanya Surya lagi.
          Alanis segera duduk di depan Surya. “Belajar mengerti.” ucap Alanis tegas. “Gue nggak ngerti ini semua. Lo itu siapa sih?”
          Surya menghela nafas. “Tadi kan gue udah bilang, nama gue Surya. Kurang jelas?”
          “Maksud gue, apa tujuan lo ke sini? Terus, ada perlu apa lo sama nyokap gue?” Alanis memperjelas pertanyaannya.
          “Emang ibu lo belum cerita?” Alanis menggeleng. “Gue akan jadi guru privat lo sampai UAN nanti. Jadwal les kita setiap Minggu jam 1 siang sampai jam 5 sore.”
          Mata Alanis terbelalak. “Jadi lo guru SMA 8 itu?” pekik Alanis tak percaya. Bagaimana ia dapat percaya karena Surya terlihat seperti seumuran dengannya.
          “Gue murid SMA 8, bukan guru. Apa lo nggak bisa bedain mana murid mana guru?” koreksi Surya. Alanis hanya terdiam mendengar perkataan Surya. “Jadi sekarang kita mau belajar apa?” tanyanya lagi.
          “Sebenarnya gue nggak bodoh-bodoh amat sih sehingga butuh guru les privat. IQ gue aja 138.” Alanis terus mengoceh tanpa menghiraukan pertanyaan Surya yang terakhir.
          “Jadi sekarang kita mau belajar apa?” Surya mengulang pertanyaannya lagi, namun kali ini nada bicaranya agak ditinggikan sehingga membuat Alanis terkejut.
          Alanis menghela nafas, lalu berucap lemas, “Fisika.”
          Selanjutnya, Alanis benar-benar dimasak oleh Surya. Entah berapa rumus yang Surya berikan kepada Alanis sehingga membuat Alanis sakit kepala. Dan entah sudah berapa soal fisika yang Surya berikan kepada Alanis. “Soal yang itu, rumusnya udah gue kasih tadi. Masa lo nggak bisa juga?” hardik Surya. Sebenarnya suara Surya sudah cukup pelan namun nada suaranya itu yang membuat Alanis merasa dihardik.
          “Gue udah pusing.” Alanis mengeluh. “Bisa kita istirahat sebentar?” pintanya sambil memelas.
          “Dari tadi lo minta istirahat terus. Baru aja kita ngerjain enam soal. Setiap soal lo udah minta istirahat. Nanti waktu les privat ini terbuang percuma hanya karena lo mau istirahat terus.” sergah Surya.
          Alanis menyipitkan mata dan menatap ke arah Surya. “Nyokap gue ngebayar lo buat ngajarin gue, jadi mau nggak mau lo harus menyediakan fasilitas istirahat buat gue.” bantah Alanis sembari menyeringai.
          “Memang benar, ibu lo ngebayar gue buat jadi guru les privat lo tapi kan yang bayar gue itu ibu lo, dan bukan lo, jadi lo nggak ada hak buat memberikan perintah ke gue.” wajah Alanis memerah karena kalah berdebat. Mau tidak mau, ia pun harus mengerjakan soal yang telah Surya berikan.
          “Iya, gue ngerti!” cetus Alanis dengan sinis.
          “Jangan membanggakan uang! Karena suatu saat, uang hanya dapat membuat orang dibodohi oleh orang lain.” hati Alanis tersohok oleh kata-kata Surya barusan. Hal inilah yang ia alami sekarang. Pacar dan teman-temannya membodohi dirinya hanya karena uang.
            Alanis mengerling ke arah Surya. “Lo benar!” ujarnya, lalu melanjutkan mengerjakan soal.

I am not a stupid girl (part 1)


Alanis benar-benar tak habis pikir jika Bisma, pacar tersayangnya, dapat selingkuh di belakangnya. Dan yang lebih membuat ia tak habis pikir adalah pasangan selingkuhnya Bisma, yaitu Vera, salah satu sahabatnya dari kelas satu hingga kelas tiga sekarang. Bisma yang telah ia pacari selama dua tahun dapat mengkhianatinya dan yang lebih memalukan lagi ia selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Rasanya ingin sekali Alanis balas dendam kepada mereka.
          Sepanjang mata pelajaran Kewarganegaraan, mata Alanis selalu tertuju kepada Vera yang duduk di depannya. Rambut Vera yang panjang terurai membuat Alanis bernafsu untuk menjam-baknya lalu berteriak di depan wajahnya ‘Dasar perebut pacar orang!’ supaya seisi kelas tahu mengenai kebusukan Vera. Untung saja Alanis dapat mengontrol dirinya sehingga perhatiannya beralih tertuju kepada Silla, salah satu teman sekelasnya—yang sebenarnya adalah salah satu orang yang tak Alanis sukai—, yang sedang presentasi di depan mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh oleh penduduk Indonesia dalam menghadapi krisis perdamaian di Indonesia.
          “Kerusuhan yang terjadi di Indonesia sendiri biasanya datang dari diri masing-masing sang perusuh. Hal kecil bisa jadi besar karena selalu dikompori dan diadu domba. Jika kita tak bisa menahan diri, kita bisa terjerumus di dalamnya dan bertindak bodoh, yaitu ikut terkompori. Ada baiknya jika kita dikompori orang, jangan langsung berniat untuk balas dendam atau sebagainya. Gunakan otak dan simpanlah masalah otot karena orang yang berintelektual tinggi tak akan mudah terkompori dan dapat meredam emosi mereka. Mereka akan bertindak dengan akal mereka, yaitu dengan cara berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Sudah semestinya, talk less do more karena tak ada gunanya jika kita berbicara banyak namun perbuatan baik kita hanya sedikit.” Alanis tertegun dengan kata-kata Silla barusan. Inilah yang sedang ia alami sekarang ini, krisis perdamaian ia dengan emosinya. Jika ia tak dapat menahan emosinya, rambut Vera sedari tadi sudah berada dalam genggamannya.
          “Gue emang nggak suka dia tapi kata-katanya bagus juga.” cetus Alanis dalam hati seraya melipat kedua tangannya di dada.
          Sepulang sekolah, Bisma telah menunggu Alanis di luar kelas. Seperti biasanya, mereka akan pulang bersama. “Hallo, Sayang, gimana tadi belajarnya? Konsen?” Alanis melirik Bisma tajam. Bisma memang tak tahu jika Alanis telah mengetahui kedok busuknya sehingga sikap Bisma masih senormal seperti biasa.
          “Ya, bisa konsen!” jawab Alanis ketus.
          “Kamu kenapa kok jutek banget?” tanya Bisma heran. Mulut Alanis yang sudah siap melontarkan cercaan mendadak tertutup kembali. Ia teringat oleh kata-kata Silla tadi, jika orang yang berintelektual tinggi tak akan mudah terkompori dan dapat meredam emosi mereka.
          “Oh, nggak apa-apa!” ujar Alanis sambil menghela nafas. “Aku capek aja mungkin. Mau cepet-cepet pulang.”
          “Yaudah, ayo kita pulang!” ajak Bisma seraya menggandeng tangan Alanis.
          Sesampainya di rumah, Alanis segera masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang ke langit-langit kamar, mengingat kejadian tadi siang yang telah membuat mata ia terbuka lebar.
          Semua terjadi ketika ia selesai mengikuti ujian Biologi susulan di ruang guru karena minggu kemarin ia tak masuk sekolah. Ia melewati ruang sekretariat ekskul basket, dimana Bisma sedang mempersiapkan perlombaan basket yang akan Bisma ikuti. Sebelum ia masuk ke ruang sekretariat, ia mendengar suara Vera. Alanis heran apa yang sedang Vera lakukan di situ. Akhirnya Alanis memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.
          “Aku udah bosen sembunyi-sembunyi kayak gini, Bisma. Sampai kapan sih kamu jadian sama Alanis? Kapan kamu putusin dia?” ujar Vera dari dalam ruang sekretariat. Mata Alanis terbelalak begitu mendengar ucapan Vera.
          “Apa maksud Vera sih?” tanya Alanis dalam hati.
          “Tenang, Sayang, kamu jangan terburu-buru gitu ya!” balas Bisma.
          “Sayang?!” Alanis memekik dalam hati.
          “Aku akan putusin dia sesudah UAN. Aku juga sebenarnya udah nggak sayang sama dia karena sayang aku hanya untuk kamu.” Bisma berkata lagi.
          “Kamu janji ya putusin dia sesuah UAN? Habisnya aku benar-benar nggak berharga banget karena nggak punya status.” Alanis perlahan-lahan mengintip ke dalam ruang sekretariat. Di situ ia melihat dengan mata kepala sendiri Bisma memeluk Vera. Hati Alanis benar-benar hancur melihatnya. Tak terasa air matanya meleleh di pipinya.
          “Kamu sabar ya, lagian mana mungkin aku mau terus-terusan pacaran sama cewek bodoh kayak dia. Aku kan pacaran dengannya karena Alanis itu gampang banget dimanfaatin.” Bisma menyudahi pelukannya terhadap Vera. “Memangnya aku pacaran sama dia karena cinta? Nggak, Sayang!” Bisma menatap Vera dengan mesra.
          “Bukan kamu aja yang kayak gitu, Sayang. Emangnya aku, Flora, dan anak-anak yang lain berteman sama dia karena kita sayang sama dia? Nggak! Alanis itu gampang banget dimanfaatin apalagi dalam hal,” Vera mengecup pipi kiri Bisma. “uang.” Alanis sudah tak sanggup lagi melihat mereka bermesraan. Tubuhnya serasa ingin tumbang. Dadanya sesak dan nafasnya ter-engah-engah. Ia benar-benar tak habis pikir jika orang-orang disekelilingnya hanya memanfaat-kannya untuk kepentingan pribadi.